Presiden Jokowi Janji Memberikan Insentif Besar

Presiden Jokowi Janji Memberikan Insentif Besar

Presiden Jokowi Janji Memberikan Insentif Besar – Presiden Joko Widodo menjanjikan beberapa skema insentif fiskal untuk mendukung perkembangan industri otomotif. Salah satunya, kata Jokowi, adalah pemangkasan pajak yang cukup agresif. “Industri otomotif menjadi sektor manufaktur ke dua terbesar. Pemerintah akan all out untuk mendorong industri ini,” kata dia saat membuka pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di ICE Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, kemarin.

Menurut Jokowi, ada tiga insentif yang disiapkan, yakni tax allowance atau keringanan pajak, tax holiday atau pembebasan pajak sementara waktu, dan yang terbaru adalah super deduction tax. Jokowi mengatakan super deduction tax adalah pemangkasan penghasilan kena pajak untuk pelaku industri yang sedang mendorong kegiatan vokasi atau pendidikan kejuruan. Insentif ini, kata dia, berkaitan dengan pengembangan industri ta hap lanjut atau industri 4.0. “Masih digodok oleh Menteri Keuangan,” ujar dia. Di samping dukungan di sektor fiskal, Jokowi menegaskan bahwa pemerintah berupaya membuka pasar bagi industri otomotif.

Salah bentuk dukungan, kata dia, berupa negosiasi dengan pemerintah Vietnam yang saat ini memproteksi pasarnya dengan skema nontarif. Vietnam memberlakukan Decree No. 116/2017/ND-CP yang membatasi masuknya kendaraan asal Indonesia, ka rena dianggap tidak me menuhi standar emisi dan standar keselamatan. “Saya sudah berbicara dengan Perdana Menteri Vietnam, dia bilang dalam dua bulan akan selesai,” kata Jokowi. Perang dagang berupa hambatan nontarif, menurut Jokowi, adalah satu dari tiga tantangan yang dihadapi industri otomotif. Dua tantangan lain yang cukup berat, kata dia, adalah disrupsi teknologi dan makin meluasnya tren kendaraan listrik.

Ihwal disrupsi atau gangguan teknologi, Jokowi menyinggung keberadaan perusahaan jasa angkutan online yang bisa menciutkan pasar kendaraan bermotor. “Jika memesan angkutan makin mudah, konsumen akan berpikir buat apa membeli mobil atau motor,” katanya. Jokowi pun menyebutkan mobil listrik menjadi tantangan berat yang harus dipecahkan industri nasional. Sebab, sampai saat ini belum ada produk mobil listrik nasional yang sudah masuk dapur produksi.

“Padahal beberapa negara, seperti Inggris dan Prancis, sudah mengumumkan akan melarang penjualan mobil nonlistrik mulai 2040. Kita harus berhati-hati dengan tren ini dan mulai bersiap-siap,” ujar Jokowi. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sudah menetapkan target produksi 20 persen mobil listrik pada 2025. Pemerintah juga menyiapkan insentif khusus untuk mobil listrik dan kendaraan ramah lingkungan lain melalui skema low cost emission vehicle (LCEV). Selain kendaraan listrik, kata Airlangga, tantangan regulasi yang harus dihadapi pelaku industri otomotif adalah pemberlakuan standar baru emisi gas buang Euro 4 mulai Oktober mendatang. “Jika produk kendaraan bermotor sudah sesuai dengan standar Euro 4, kinerja produsen otomotif akan makin efisien karena memenuhi syarat untuk dijual di dalam dan di luar negeri,” ujar dia.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Yohannes Nangoi, mengatakan para anggotanya sudah siap me nyambut pemberlakuan standar baru Euro 4. “Ini menjadi bukti bahwa kami siap berkompetisi dengan kendaraan minim polusi,” katanya. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufac turing Indonesia, Warih Andang Tjahjono, juga menuturkan produsen tidak menghadapi masalah besar apabila dituntut memproduksi kendaraan dengan standar emisi baru. “Kami sudah sangat siap untuk memenuhi syarat tersebut.”

Tags: