Pertempuran Dua Raksasa E-commerce

Pertempuran Dua Raksasa E-commerce – Karpet merah terbentang di Istana Bogor awal September 2018. Di ujung karpet ada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menanti tamu spesial dari tanah Tiongkok, Jack Ma, salah satu pendiri raksasa e-commerce dunia Alibaba Grup.

Dengan muka penuh senyum, si pemilik kekayaan Rp 540 triliun itu langsung menyalami Jokowi yang menanti bersama lima menteri. Mula-mula, obrolan mengalir terkait pelaksanaan penutupan Asian Games, selanjutnya obrolan mengarah soal bisnis digital di Indonesia. Meski pembicaraan dihadiri beberapa orang saja, namun usai acara, perwakilan pemerintah menyampaikan kesepakatan dengan Jack Ma, yang terkenal piawai dalam berbisnis di banyak negara. Perlu diingat, Jack Ma bukanlah nama baru yang melalangbuana di pusaran bisnis Indonesia.

Mantan guru yang kemudian menjelma jadi pengusaha itu sudah banyak berkecimpung di Indonesia lewat Alibaba Grup. Di Indonesia, Alibaba membenamkan investasinya di Lazada dan Tokopedia. Alibaba juga menaruh dana lewat anak usahanya Ant Financial di Bukalapak dan lainnya. Tak hanya berbisnis, Jack Ma juga didaulat jadi advisor pemerintah untuk membuat peta jalan industri e-commerce Indonesia. Di sinilah keunikan peran Jack Ma di Indonesia. Selain menjadi advisor kepada pembuat regulasi e-commerce alias pemerintah, Jack Ma juga gencar memperkuat bisnis e-commerce-nya di Indonesia. Entah berkaitan atau tidak, masih di bulan yang sama, Presiden Joko Widodo juga membentangkan karpet merah untuk Werner Vogels, Vice-President Amazon.com di Istana Merdeka Jakarta.

Amazon sebagaimana kita tahu, adalah raksasa e-commerce dari Amerika Serikat (AS) yang kerap jadi kompetitor Alibaba. Banyak yang memberitakan, Amazon dan Alibaba adalah dua raksasa e-commerce yang bersaing ketat di dunia. Kedua raksasa e-commerce ini memiliki basis bisnis di dua negara berbeda, yakni Amerika Serikat dan China, yang kini tengah terlibat perang dagang. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, Amazon datang ke Indonesia untuk menyampaikan niat berinvestasi di Indonesia. Asal tahu saja, gosip rencana investasi Amazon di Indonesia pernah diungkap pada 18 Juni 2016. Informasi yang diperoleh saat itu, Amazon ingin berinvestasi di Indonesia senilai US$ 600 juta.

Namun, Vogels pekan lalu justru menyampaikan komitmen investasi US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 14 triliun. Yang jelas, kehadiran Amazon membuat persaingan bisnis e-commerce asing di Indonesia makin ketat. “Pemain asing sudah banyak. Yang belum saat ini hanya Walmart,” kata Dewan Pembina Indonesian E-Commerce Association (idEA) Daniel Tumiwa.

Potensi Pasar Sangat Besar

Kehadiran Amazon menambah panjang daftar perusahaan ritel online alias e-commerce asing di Indonesia. Dalam catatan, perusahaan asing yang mengecap manis bisnis ecommerce di Indonesia baik secara langsung dan tidak langsung adalah Alibaba, JD, Naspers, eBay, GIC Pte Ltd. Usai menemui Alibaba asal China, dan bersua petinggi Amazon asal Amerika Serikat (AS), Jokowi juga bersua pemilik Lotte Grup, raksasa e-commerce asal Korea Selatan di Seoul. Pertemuan dengan petinggi Lotte Grup berlangsung saat Preiden melawat ke negara tersebut, 10 September lalu. Lotte sudah masuk Indonesia lewat kerjasama dengan konglomerasi lokal Salim Grup di iLotte.

Ari Kuncoro, Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia UI) melihat, banyak banyak pertimbangan bagi investor asing untuk masuk pasar e-commerce di Indonesia. Pertama, potensi pasar ecommerce yang besar dengan penduduk 267 juta jiwa. Dari total penduduk itu, jumlah terbanyak adalah kalangan produktif yang punya daya belanja tinggi. “Kedua, warga Indonesia memiliki akses ke media sosial atau internet dengan baik, sehingga bermanfaat bagi pelaku bisnis digital, ungkap Ari. Usut punya usut, langkah Jokowi menemui petinggi e-commerce global dilakukan setelah anak buahnya bikin regulasi kawasan berikat untuk e-commerce, atau dikenal dengan nama Pusat Logistik Berikat (PLB) E-commerce dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 28/2018. Beleid kawasan berikat ini berbeda dengan kebijakan sebelumnya. Tujuannya untuk menampung impor komponen atau bahan baku kebutuhan industri yang berorientasi ekspor. Khusus beleid anyar ini, kawasan PBL E-commerce dijadikan tempat penampungan barang sudah jadi atau siap didistribusikan ke konsumen Indonesia, lewat mekanisme e-commerce.

Alhasil, siapa saja boleh membuka PLB E-commerce, termasuk perusahaan e-commerce. Inilah daya tarik bagi ecommerce asing untuk berinvestasi di Indonesia termasuk Amazon. “Secara teknologi dan dana, Amazon bisa langsung membuka PLB E-commerce, kemudian dia impor barang lalu memasarkan dan mengantarkannya sendiri,”= jelas Daniel.