Pertempuran Dua Raksasa E-commerce Part II

Kemampuan Amazon berbeda dengan Tokopedia, Bukalapak atau pemain lainnya yang saat ini mengandalkan peran para seller (pedagang) atau memasok barang ke aplikasinya. Selain Amazon, e-commerce asing rata-rata sudah punya kemampuan seperti ini, termasuk Alibaba lewat Lazada. Namun jika Amazon melakukan ini, tentu mengancam keberadaan e-commerce jenis perusahaan marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Sebab, selama ini, mereka mengandalkan bisnis dari pedagang dan usaha kecil (UMKM).

Jika perusahaan bisa impor sendiri dari produsen, dan menjual lebih murah ketimbang pedagang-pedagang di Bukalapak atau di Tokopedia, regulasi ini jadi ancaman, ungkap Daniel. Namun demikian, jika pemerintah tidak mengatur PLB Ecommerce, maka akan kehilangan potensi pendapatan pajak dan bea masuk impor dari e-commerce. Sebab Amazon atau e-commerce lainnya bisa membuat gudang PLB di Singapura atau Malaysia, untuk menyuplai barang ke Indonesia.

Memang, e-commerce asing tak selalu menjual produk impor di lapak mereka. Ada juga e-commerce yang menjual produk dalam negeri seperti dilakukan JD.ID. Sebagai e-commerce yang model bisnisnya B2C (business to consumer) ritel, sebagian besar produk yang kami jual adalah produk lokal, kata Teddy Arifianto, Head of Corporate Communications & Public Affairs PT.Jingdong Indonesia Pertama. JD.ID memang menjual barang impor dari pedagang di luar negeri. Namun sebaliknya, JD.ID juga memfasilitasi pedagang Indonesia jualan produknya ke luar negeri lewat jaringan JD.ID. Asal tahu saja, JD.ID yang dimiliki oleh JD.com berasal dari China dan telah beroperasi di beberapa negara. JD.ID sudah tiga tahun beroperasi di Indonesia, dan mengoperasikan gudang di Jakarta, Surabaya, Medan, Pontianak, Makassar, dan Semarang.

Hanya saja gudang-gudang JD.ID tersebut belum mendapat status PLB E-commerce. Kemudahan yang diperoleh jika gudang tersebut berstatus PLB e-commerce adalah importir bisa melakukan impor ke PLB tanpa harus membayar bea masuk. Pembayaran bea masuk baru dilakukan saat produk dijual atau keluar dari PLB ke pasar domestik lewat fasilitas e-commerce. Selama tiga tahun ini, JD.ID mengklaim pertumbuhan penjualan mereka mencapai 10 kali lipat, dengan jumlah karyawan 3.000 orang. Agustus lalu, JD.ID mendirikan toko arti? cial intelligence pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Lalu, September, mereka bikin layanan JD.ID Virtual untuk menangkap peluang bisnis baru.

Bisnis Cloud Pembuka Jalan Bagi Amazon

Menghadapi karang, air tak perlu menghantamnya, cukup memutar, air akan bisa melewatinya dan menuju tujuan. Kurang lebih, strategi semacam inilah diterapkan Amazon untuk menghadapi pasar ritel online alias e-commerce di Indonesia. Seperti kita tahu, pasar ritel online di Indonesia sudah sesak dengan perusahaan lokal maupun global. Nah, Amazon tak mau mengulang kekalahan mereka saat memasuki pasar e-commerce China. Kala itu, Amazon memutuskan hengkang dari pasar China lantaran merasa kesulitan menghadapi Alibaba, raksasa e-commerce asal China yang sudah mendunia. Namun, Amazon belajar dari pengalaman itu dan membuktikan dirinya mampu menembus Asia lewat India.

Pada tahun mereka hadir di India, Amazon bisa menguasai pasarnya, kata Daniel Tumiwa, Dewan Pembina Indonesian E-Commerce Association (idEA). Kini Amazon membidik Indonesia. Kali ini, Amazon memilih tidak bersaing secara terbuka dengan para kompetitor yang sudah lebih dulu menggarap dan menguasai pasar e-commerce di Indonesia.

Maka itulah, raksasa ritel online dari negeri Paman Sam ini masuk melalui bisnis cloud (awan). Tak tanggung-tanggung, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Amazon akan berbisnis cloud di Indonesia dengan nilai investasi US$ 1 miliar selama 10 tahun. Persis namanya, cloud merupakan jaringan internet yang menyimpan data layaknya di ‘awan’ yang tidak terlihat karena harus mengaksesnya dengan internet.

Bisnis cloud merupakan muara dari semua bisnis digital, karena akan menyimpan datanya di cloud. Mulai dari data transaksi e-commerce, pola belanja konsumen, sampai aktivitas semua yang mengakses internet akan tersimpan di situ. Jika Amazon masuk bisnis cloud, mereka akan menguasai meta data konsumen digital di cloud tersebut, setelah itu mereka bebas mau bisnis apa saja tak hanya e-commerce, ungkap Daniel. Penguasaan informasi konsumen di dunia digital merupakan informasi mahal di era sekarang. Ibarat bisnis zaman dulu, jika mau buka suatu usaha, lokasi adalah penentunya. Di era digital, letak lokasi itu setara dengan data dari informasi perilaku konsumen. Sayangnya, pihak Amazon belum memberikan jawaban atas pertanyaan tertulis KONTAN mengenai rencana bisnis mereka di Indonesia.