my life, random thoughts

Suara Hati Konsumen Angkutan Online

Sudah bukan rahasia kalau pelaku angkutan umum berbasis online dan pelaku angkutan umum konvensional tidak akur. Salah satu bukti sebut saja saat berada di bandara, stasiun atau terminal. Pasti deh kita sebagai konsumen dilarang menggunakan angkutan online. Ngalahi harus jalan keluar dulu agak jauh biar bisa menggunakan angkutan online. Kalau si angkutan online nekat masuk ke kawasan tersebut bisa dihabisi sama si angkutan konvensional. Iya apa iya?

Sampai tulisan ini saya buat, polemik antara angkutan online dan angkutan konvensional masih terus bergulir. Pelaku angkutan konvensional demo ke kantor pemerintahan minta keadilan, menurut mereka penghasilan menurun drastis sejak adanya angkutan online, menurut mereka juga pemerintah belum adil menerapkan peraturan terkait pajak, uji KIR, tarif batas bawah dan lain sebagainya. Sebaliknya pelaku angkutan online pun merajuk, “kami ini juga bekerja keras, halal dan butuh penghasilan.”

Melihat keruwetan itu pemerintah tidak tinggal diam, akan ada revisi regulasi yang telah ada (Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek). Rencananya semua pihak akan dilibatkan dalam perumusan revisi regulasi tersebut, mulai dari Organda, Kepolisian, Kementerian Perhubungan hingga pelaku industri angkutan online.

Tapi,

Kenapa kita sebagai konsumen tidak dilibatkan ya?

Padahal peran konsumen sangat besar dalam keberlanjutan baik itu angkutan online maupun angkutan konvensional. Misal revisi peraturannya sudah jadi, pelaku angkutan online dan angkutan konvensional sudah akur, tapi ga ada konsumen yang pakai keduanya. Terus gimana? Yakin masih bisa berlanjut industrinya?

Atau mungkin kita sebagai konsumen diperlakukan sebagai obyek yang harus menerima apapun hasil akhirnya, “Adanya begini, peraturannya begini, mau pakai, ga mau ya sudah.

Ah seandainya saja peran kita sebagai konsumen dilibatkan. Suara hati kita didengarkan. Kenapa kita sebagai konsumen prefer menggunakan angkutan yang mana, alasannya apa.

Gini deh.

 

Kaya saya (satu dari sekian banyak konsumen angkutan online), jujur prefer menggunakan angkutan online. Kenapa?

1. Yang pertama jelas karena lebih MURAH, saya ga munafik

Saya ga tau sistem kerjanya seperti apa, benefit perusahaan dari mana, kedepannya bagaimana yang jelas NOW tarif angkutan online yang dibebankan pada konsumen sangat murah.

Dari rumah saya ke kantor yang jaraknya kurang lebih 14,5 km dan selalu macet, dengan menggunakan angkutan online berjenis mobil hanya kena tarif Rp 45000 sedangkan dengan taxi konvensional bisa kena tarif Rp 80000. Ya jelas saya pilih angkutan online lah.

+1 untuk angkutan online dan +0 angkutan konvensional → 1 : 0

2. Yang kedua karena ATTITUDE

Nah ini nih. Saya sering banget kecewa sama angkutan konvensional baik itu becak, ojek maupun taxi gara-gara drivernya yang sok pilih-pilih penumpang. Jadi pernah dari terminal Bungurasih mau naik taxi ke kantor, kurang lebih jaraknya 3,5 km. Mau naik taxi yang ga berargo soalnya ga ada kan ya taxi berargo, mereka ga boleh mangkal di terminal. Begitu saya mendatangi driver taxi dan bilang mau ke Gayung Kebonsari. Apa yang terjadi? Saya ditawar-tawarin ke driver lainnya. Mungkin karena menurut mereka terlalu dekat jadi entar dapat uangnya cuma sedikit. Hellow… niat kerja ga sih. Akhirnya ada driver yang mau mengantarkan saya dengan tarif yang dimahal-mahalin, Rp 45000!

Cerita lain saat saya dari stasiun Mojokerto mau ke rumah mami, kurang lebih jaraknya cuma 700 m. Karena adanya becak yang mangkal di stasiun oke saya mendatangi diver tukang becak. Apa yang terjadi? Saya dilempar-lemparin ditawar-tawarin dari tukang becak satu ke tukang becak lainnya. What the hell! Tukang becak saja sombong amat sih. Butuh uang ga sih kalian. Padahal saya kalau naik becak ga pernah nawar, selalu bayar Rp 20000 yang notabene jauh lebih mahal dari harga tiket kereta yang saya naiki dan sudah pasti lebih dari tarif yang tukang becak itu sendiri minta.

Jauh beda dengan attitude pelaku angkutan online yang jauh dekat mengantar dengan sepenuh hati. Dari terminal Bungurasih ke kantor cuma Rp 16000, dari stasiun Mojokerto ke rumah mami cuma Rp 5000, saya bayar pas pakai gopay ga pakai ngasih tips lagi dan mereka senyum-senyum saja tuh bilang terima kasih. Menyenangkan.

Itu cuma sekelumit cerita tentang attitude pelaku angkutan online vs pelaku angkutan konvensional. Kelihatan kan mana yang perlu direvolusi mental?!

+1 untuk angkutan online dan +0 angkutan konvensional → 2 : 0

3. PERFORMANCE

Ya saya tau kerja di jalan panas-panasan penampilan itu nomor kesekian. Tapi paling engga motor atau mobil dalam kondisi baik lah ga butut. Kalau angkutan online kan motor atau mobilnya baru-baru tuh, yang motor enak dinaikin, yang mobil juga AC nya adem, baunya wangi. Beda deh sama angkutan konvensional, yang motor kaya sudah mau protol, yang taxi kadang AC nya sudah ga adem, bayar mahal tetep keringetan, males banget kan..

Belum lagi penampilan driver. Kalau driver angkutan online biasanya rapi, ga bau, malah beberapa ada yang berpendidikan dan punya profesi lain selain driver, jadi nyambung kalau diajak ngobrol. Lah kalo driver angkutan konvensional?! Alamak. Pakai helm dari mereka saja kadang saya risih dan sorry to say, jaketnya sudah berapa bulan ga dicuci pak? Hiks.

+1 untuk angkutan online dan +0 angkutan konvensional → 3 : 0

4. FITUR yang beragam

Thanks to gojek yang sudah menyediakan macam-macam fitur selain angkutan motor atau mobil. Bermanfaat banget semuanya. Terutama yang sering saya pakai adalah gofood dan gosend. Saat mager tapi perut laper gofood adalah right answer. Pesan makanan ga pakai ribet, pelayanannya cepat dan ongkos antarnya wajar. Pernah saat jam makan siang dan saya malas keluar kantor, pesan makanan lewat gofood. Dianterin sampai ruangan saya yang ada di lantai 5, FYI di kantor saya ga ada lift, jadi naiknya harus lewat tangga. Si driver ga ada tuh ngeluh. Ga minta tambahan ongkos juga. Malah senyum bilang terima kasih. Coba pesan lewat kurir konvensional, pasti sudah ngeluh dan minta tambahan ongkos gara-gara naik tangga sampai ke lantai 5 deh.

+1 untuk angkutan online dan +0 angkutan konvensional → 4 : 0

Nah itu, nilainya 4 : 0 lho.

 

Kalau saja peraturan di revisi mempertimbangkan suara hati kita sebagai konsumen. Mungkin akan terwujud suatu keseimbangan ke arah yang lebih baik. Misal tarif sudah dibuat sama, belum tentu juga angkutan konvensional akan ramai lagi seperti dulu kalau tidak ada perubahan dari segi yang lainnya, pun belum tentu angkutan online akan sepi. Karena yang dibutuhkan konsumen itu bukan cuma harga yang murah tapi juga keramahan, kenyamanan dan kemudahan dalam menggunakan angkutan umum. Jadi plis pemerintah jangan persulit angkutan online.

Ini sekedar opini dari saya mewakili kita sebagai konsumen angkutan online. Ada yang punya opini sama dengan saya ga? Atau malah ada yang punya opini berbeda? Boleh dong di share di kolom comment. Salam angkutan online lovers.

20 Comments

  1. Masalah culture shock juga nih, mbak. karena ada kesenjangan dalam penggunaan teknologi terkait urusan cari nafkah. tentu saja pembenahannya secara luas juga butuh waktu.
    saya sendiri pengguna konvensional maupun online. dua-duanya bermanfaat kok keberadaannya, tergantung sikon, hehe..

    1. setuju sama mba shenisa… pemerintah PR nya banyak ya..hehehe.. mudah2an cepet tanggap pemerintah melihat perubahan yg ada..biar culture shocknya bisa diminimalisir.

    2. Iya mbak kesenjangan teknologi. Yang ga bisa mengikuti perkembangan zaman akan tertinggal.
      Semoga pemerintah bisa mencarikan jalan keluar yang pro konsumen.

    3. Wah, iya ya. Saya setuju dengan mba Nisa mengenai kesenjangan dalam penggunaan teknologi.

  2. Hastira

    nah yang aku sebel itu yang attitude, betul banget bikin kesel, apalagi kalau naik beca dan kita gak tahu jalan suka dibohongi soal harga

  3. zahraflo

    Pengalaman saya yang ga enak dengan konvensional, driver pilih-pilih konsumen. Tapi pernah nemu juga driver konvensional ramah, berpendidikan, kebetulan satu jurusan dengan saya, ngomongnya jadi nyambung.
    Ada juga yang nyariin jalan cepet. Pernah juga dikasih kembalian detail banget dengan argonya.
    Antara baik dan buruknya saya pernah ketemu keduanya. Kebetulan yang online juga pernah nemu buruknya. Saya pesen makanan, order diambil, drivernya ga gerak-gerak padahal saya nungguin udah lama..laper… saya coba hubungi ga digubris. Akhirnya saya cancel. Tapi banyaaaak bagusnya kok yang online. Pernah beli gas pas ga ada suami di rumah, dan dipasangin sekalian.

    1. Iya mbak masing-masing pasti ada minusnya. Makanya berdampingan ga usah saling demo maksa salah satu ditutup. Wah masangin gas, boleh juga tuh idenya.

  4. bener banget mba .. transport online emang paling mudah untuk jaman ini.. karena kita juga mengikuti jaman yang semakin mempermudah yaaa.. bukan mempersulit.. semoga gak ada larang2an angkutan online yaaa.. denger2 sudah dilarang untuk di Bandung

    1. Walikotanya sudah klarifikasi ga ada larangan mbak.

  5. setujuuu… padahal dulu di awal juga angkutan online udah nawarin para ojek konvensional utk bergabung ya. diajak males, giliran yang lain sukses marah2 😛

    1. Nah itu. Saya koq menduga para driver angkutan konvensional itu pemalas ya. Mereka maunya mangkal, anter penumpang trus dipaalakin deh narik ongkos mahal. Abis gitu uda, balik lagi ke pangkalan nunggu penumpang berikutnya.
      Beda dengan driver angkutan online yang gigih. Anter penumpang. Penumpang turun, anter penumpang lainnya. Ga sempet lehah-lehah di pangkalan.

  6. untuk angkutan online memiliki harga yang berbeda beda kalau menurut saya memang wajar.. karena ya perkembangan aplikasi membutuhkan budget yang tidak sedikit.. saya juga pernah merasakan membuat aplikasi yang memang butuh budget yang banyak.. tapi dengan adanya tim semuanya jadi lebih mudah..

    kendaraan pemesanan online memang lebih memudahkan

    1. Beberapa pakar ekonomi menduga adanya indikasi monopoli. Setelah angkutan konvensional mati maka tarif angkutan online akan dinaikkan setinggi-tingginya.

  7. Terus terang alasan utama saya milih kendaraan online jg krn harga. Saya tipe yg males nawar2, apalagi gak bisa memperkirakan jarak. Dengan kendaraan online lbh terbantu.

    Semoga aja pemerintah bisa memikirkan solusi terbaik.

  8. Nah, itu. Aku juga mikir gitu, Mbak. Makanya, angkutan online sangat dibutuhkan.

  9. emang harusnya PR pemerintah kan ya. saya nulis tuh, di blog yang satu lagi, sutannagari.wordpress.com
    sebuah ide aja siih…

  10. buat masyarakat kota ojek online ini ibarat anugrah, hanya harus sabar menunggu kesiapan dari masyarakat saja, khususnya pelaku usaha di ojek konvensional

  11. Buat saya, nilai plus angkutan online itu ya karena pasti juga. Jaraknya jelas, harga juga sesuai, gak pake nawar2, trus rute bagaimana kesana juga jelas.

    Yang sering saya alami sendiri, utk angkutan umum yg menggunakan jalur umum (selain kereta, trans, dll), mereka suka ngetem. Dan itu bikin sebal krn kita juga dikejar waktu, mau disuruh cepat juga kasihan angkutnya maish kosong.

    Angkutan konvesional, dengan adanya fenomena spt ini, seharusnya jg sadar dg kelebihan konsep angkutan online…..bisalah ditiru hal2 baiknya (selain sistemnya yg online).

    1. Mungkin kalo angkot dibeli pemerintah trus diberlakukan tarif wilayah (jauh dekat tidak sama) maka pak sopir ga perlu ngetem nunggu penumpang penuh. Karena kan berapapun dapetnya take home pay ga perlu setor ke pemilik angkot lagi.

  12. Tergantung jarak mbak, itung2 perkiraan tarif juga. Soal driver nyebelin dan baik, udah pernah nemu dari kedua belah pihak. Kalo saya pribadi, suka yg umum sih, ngurangin polusi dan macet. Dgn catatan, fasilitas diperbaiki, perundangan jg lebih tegas sehingga gak ada rebutan, ngetem, palak2, dsb.

Leave a Reply