my life, random thoughts

Pertanyaan Horor Saat Lebaran

CTD2620178535

Lebaran.

Idul Fitri.

Hari Raya.

Sejatinya adalah hari kemenangan bagi kita ummat muslim setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Dikembalikannya kita dalam keadaan fitrah, bersih suci tanpa noda.

Itu secara Hablumminnallah.

Sedangkan secara Hablumminnanas, di hari itupun kita bersilaturrahim, bermaaf-maafan dengan keluarga, tetangga dan kerabat.

Selain bersilaturrahim, banyak lagi hal yang kita lakukan yang identik dengan lebaran, diantaranya :

1. Mudik
Mudik alias pulang kampung biasa dilakukan saat lebaran, selain momentum yang pas untuk bermaafan dengan keluarga, juga karena lebaran biasa bertepatan dengan libur yang lumayan lama.

Apakah saya mudik tahun ini? Jelas iya. Saya kerja di Surabaya dan berdomisili di Sidoarjo, jelas lah saya pulang kampung saat lebaran menemui keluarga. Kebetulan keluarga yang tinggal mama semata wayang ada di Mojokerto, jadi saya mudiknya ke Mojokerto dulu trus lanjut ke Madiun ke rumah mertua. Untuk tahun ini, mama saya diajak juga ke Madiun, kasian kalau ditinggal sendirian di Mojokerto bisa bengong terus sedih terus malah ingat yang sedih-sedih. Memang tahun ini adalah tahun lebaran yang menguras air mata bagi saya dan mama.

Baca : Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Baca : Adekku

2. THR
Siapa pekerja yang ga nerima Tunjangan Hari Raya? Saya rasa sih ga ada. Siapapun itu mau pekerja level rendahan ataupun level pimpinan pasti nerima. Mau pekerja itu agama Islam, Kristen, Hindu, Budha pasti semua nerima. Iya apa iya?!

Lalu siapa yang Tunjangan Hari Raya nya masih utuh? Berarti kelewat pelit itu mah, hahaha. Kalau buat saya THR diberikan untuk dibagi-bagikan. Lewat sedekah ke yang membutuhkan, lewat bagi-bagi baju baru atau bagi-bagi parcel berisi kue lebaran ke keluarga terdekat, lewat angpau-angpau yang dibagikan untuk para keponakan dan tetangga atau kerabat yang masih kecil.

Baca : Beli Baju Lebaran, Yes or No

Percaya atau engga, kebaikan yang kita tanam pasti akan menuai hasil. Hasil tersebut bisa kita nikmati saat ini juga bisa di lain waktu. Bisa lewat cara yang sama, bisa lewat cara yang lain.

Sama halnya dengan angpau, saya bagikan angpau untuk keponakan/tetangga/kerabat, eh anak saya dapat angpau balik dari tante/om/bude/eyang nya. Kadang kalau di kurs kan jatohnya untung, hahaha. Ya meskipun ada orang yang maunya nerima tanpa mau berbagi, banyak, ya itu urusan mereka.

3. Foto Keluarga
Di era medsos ini hampir semua orang, se-mu-a, bikin foto keluarga saat lebaran, even cuma foto pakai hape. Yang penting eksis. Pakai baju couple trus foto bareng, upload di facebook/instagram dengan caption selamat lebaran blablabla.

Apakah saya melakukan hal yang sama dengan kebanyakan orang? Tidak untuk tahun ini. Ga tau rasanya malas saja foto-foto. Saya sibuk menata hati lebaran tanpa ayah dan adek, rasanya sesak di dada, bawaannya pengen mewek.

4. Kumpul Keluarga Besar
Nah ini, entah darimana awalnya koq bisa ada tradisi saat lebaran kumpul keluarga besar baik itu yang akrab maupun ga akrab, bahkan ada yang ga kita kenal.

Di saat kumpul itulah banyak pertanyaan-pertanyaan horor yang kadang bikin mood rusak, bikin males kumpul tahun depannya.

  • Pertanyaan macam :
    1. Kapan lulus?
    2. Kerja dimana?
    3. Kapan nikah?
    4. Uda “isi” apa belum?
    5. Kapan nambah anak?
    6. Koq tambah gendut/kurus/item dan judgement fisik lainnya
    Dan karena tahun ini lebaran bertepatan dengan tahun ajaran baru, maka pertanyaan horor bertambah menjadi
    7. Sekolah dimana? –> Buat yang baru masuk SD/SMP/SMA
    8. Kuliah dimana? Jurusan apa? Dan kalau jurusannya ga beken pertanyaan akan berkembang menjadi HAH, JURUSAN APA ITU ENTAR MAU KERJA APA KAMUUUUU?????

Saya sendiri pernah stres gara-gara dapat pertanyaan itu. Satu sampai delapan pertanyaan sudah pernah saya lewati masanya.

Kalau ditanya mana yang paling bikin stres? Semuanya. Karena kan pertanyaan horor itu muncul saat jawabannya pasti tidak memuaskan si penanya, makanya yang ditanya stres.

Contoh waktu saya masih kerja konsultanan ikut kakak tingkat, banyak keluarga yang nanya kerja dimana, waktu saya jawab konsultan, mereka kaya ga puas gitu trus mengasihani saya ngasih advice ini itu, ada juga yang memandang sebelah mata, merendahkan, duh stres saya waktu itu. Giliran sekarang sudah PNS, sudah ga ada yang tanya kerja dimana, eaaa.

Sekarang sih masih ada beberapa pertanyaan nyelekit macam kapan nambah anak atau judgement fisik tambah lebar blablabla. Tapi yauda sih nyengir saja masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Toh makan ga ikut mereka.

Haduuuuuh, kadang mikir ngapain sih pakai ada pertanyaan horor kaya gitu?! Apa karena memang keluarga ga akrab jarang ketemu bingung juga mau ngobrolin apa akhirnya basa-basi nanya-nanya macam itu, maunya sih biar suasana cair eh malah tambah bikin bete.

Terus ya gitu deh stereotype orang Indonesia definisi sukses ya masih seputar duniawi doang. Kalau sudah lulus kuliah dari kampus dan jurusan beken, keterima kerja di tempat yang bonafit dengan penghasilan besar, bisa mudik bawa mobil keluaran terbaru, punya istri/suami, punya anak banyak yang pinter-pinter dan sekolah di sekolah favorit, body tetep oke, itu baru SUKSES, KEREN, PRESTIGE.

Padal sukses itu ga melulu tentang duniawi, ga melulu tentang materi.

Sukses itu hidup bahagia lahir batin meski sederhana. Diberi kesehatan masih bisa kumpul saat lebaran. Bisa berbagi dari harta yang halal meski ga banyak. Punya anak yang soleh solehah qurrota ayun bagi orang tua, attitude nya bagus.

Lagian ngapain sih pakai disombongkan? Pakai merendahkan orang lain? Semua yang di dunia lho cuma titipan. Kalau memang dititipi banyak ya jangan sombong, rajin-rajin berbagi sama yang dititipi sedikit kek.

Kalau sudah dapat jodoh duluan ya ga usah pamer, ga usah sok-sok ngedeadline yang belum dapat jodoh, yakali cari jodoh kaya balapan motogp. Eh cariin kek yang soleh, yang sudah mandiri secara finansial, yang punya sense of humor, sukur-sukur kalau ganteng juga.

Baca : 6 Jenis Laki-laki yang Kalian Harus Terima Lamarannya

Ah emboh kah. Mungkin sayanya saja yang terlalu kuno. Saya penganut paham “Bicaralah yang baik, atau diam”.

textgram_1498814951

Kalau kalian gimana gaes, apa saja yang kalian temui saat lebaran? Share di comment dong. Atau bikin tulisan sendiri, ntar saya bw deh.

Taqoballahu Minna wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum
Selamat Hari Idul Fitri 1438 H

Leave a Reply