kuliner, my life, random thoughts

Oleh-oleh Khas Daerah di Kalangan Artis

CTD1942017201225

Menjamurnya bisnis oleh-oleh khas daerah di kalangan artis menimbulkan berbagai opini dari masyarakat. Ada yang larut dalam euforia sampai dibela-belain ngantri hanya demi sekotak oleh-oleh. Tapi ada juga yang bertanya-tanya :

“Trus apa bedanya oleh-oleh antara satu daerah dengan daerah lainnya? Semua serba cake.”
“Aaah palingan punya satu orang aja, artisnya cuma brand ambassador.”
“Letak kedaerahannya dimana?”

Kalau kalian gimana gaes? ✌

FYI, ini daftar oleh-oleh khas daerah di kalangan artis yang saya tau :
1. Strudel Malang – Teuku Wisnu
2. Jogja Scrummy – Dude Herlini
3. Medan Napoleon – Irwansyah
4. Surabaya Snowcake – Zaskia Sungkar
5. Bandung Makuta – Laudya Chinthya Bella
6. Raincake Bogor – Shireen Sungkar
7. Cirebon Sultana – Indra Bekti
8. Makassar Baklave – Irvan Hakim
9. Pontianak Lamington – Glenn Alinskie
10. Bosang Makassar – Ricky Harun
11. Mamahke Jogja – Zaskia Adya Mecca
12. Surabaya Patata – Oki Setiana Dewi & Ria Ricis
13. Semarang Wifecake – Chelsea Olivia
14. Lampung Banana Foster – Hengky Kurniawan

… dan masih banyak lagi yang bakal menyusul

Saya pribadi sih setuju-setuju saja dengan konsep bisnis para artis tersebut. Terlepas itu beneran punya si artis atau mereka cuma jadi brand ambassador nya doang.

Saya yakin mereka (baca : si empunya bisnis) sudah berpikir keras bagaimana membangun bisnis mereka hingga seperti sekarang.

Mulai dari membuat branding yaitu nentuin nama, tema store dengan warna mencolok agar menarik perhatian, bikin poster sampai bikin kemasan yang eye catching.

Menyusun strategi marketing kekinian yaitu dengan memposting foto-foto super keren di instagram mereka yang punya jutaan follower, kehadiran mereka saat grand opening store sampai mengundang media, para blogger dan food hunter untuk mereview.

Membuat tagline dengan bahasa daerah setempat. Padahal boro-boro mereka ngerti bahasa daerah setempat.

Belum lagi berkoordinasi dengan pimpinan daerah setempat untuk izin pemakaian nama daerah.

Kalau resep cakenya sendiri sih saya rasa bukan pure dari si artis.

Jadi misal kita ambil contoh spesifik Zaskia Sungkar dengan Surabaya Snowcake nya.

Instagram Zaskia punya kurang lebih 10,7m follower. Ketika dia posting foto di instagramnya si follower akan melihat dan otomatis tertarik. Soalnya fotonya buagus buanget men, caption promosinya juga spektakuler. Persuasif banget lah pokoknya. Nah si follower akan getok tular ke teman atau tetangga atau saudaranya yang tidak memfollow instagram Zaskia buat ikutan beli Surabaya Snowcake. Udah nambah banyak kan konsumennya. Biasanya selain artis si empunya bisnis itu sendiri yang posting foto, dia disupport oleh teman-teman artis lainnya yang juga bantu posting foto di instagram masing-masing. Ya kaya foto Surabaya Snowcakenya Zaskia, diposting juga tuh di instagram Irwansyah, Shireen Sungkar, Teuku Wisnu, Laudya Cintia Bella, dll. Hmm… udah nambah berapa lapis tuh konsumennya?! Ratusan. Lebih. Wkwkwkwk 😀

Sesekali Zaskia juga memposting foto antrian konsumen, video-video dan kata-kata Sold Out di instagramnya, dalam segi marketing itu bagus lho. Menunjukkan bahwa cake mereka laris manis tanjung kimpul. Follower yang belum beli akan penasaran, apa iya seenak itu, dan merekapun akan mencoba.

Belum lagi ketika ada statement Zaskia Sungkar dan Irwansyah akan hadir saat grand opening. Udah deh, fans pada berdatangan, terlepas si fans suka makan cake atau engga, yang penting datang – beli – biar ketemu idola mereka. Agak alay sih 😭

Untuk penggunaan kata Surabaya padahal cake tersebut bukan jajanan asli Surabaya, saya yakin mereka sudah berkoordinasi dengan pimpinan daerah setempat. Kalau beliau saja mengizinkan kenapa kita tidak. Toh kehadiran cake itu tidak mematikan jajanan yang sudah ada, kue lapis Surabaya tetep ada kan, kue lapis kukus Surabaya juga tetep ada kan. Malah bagus banyak variasi oleh-oleh, malah tambah terkenal juga kota Surabaya. Manfaat lain yaitu ngebuka banyak lowongan pekerjaan dan menambah Pajak Daerah.

Malahan di store Strudel Malang punya Teuku Wisnu juga jual jajanan lain selain Strudel Malang, keripik-keripik bikinan UKM Malang yang ga bisa buka lapak sendiri gitu. Ngebantu jualan para UKM juga kan berarti.

Balik lagi ke Surabaya Snowcake.

Kalau soal rasa kan selera ya. Ada yang bilang Surabaya Snowcake itu Enak banget. Enak. Lumayan. Biasa aja. Mungkin ada juga yang bilang Ga enak. Kalau saya sih NO *ala mas Anang di Indonesian Idol. Untuk harga semahal itu kayanya kurang worth it deh. Kalau beli oleh-oleh, saya masih lebih milih Kue Lapis Surabaya Livina atau Kue Lapis Kukus Surabaya Pahlawan.

Terus makin kesini saya lihat koq semakin banyak ya oleh-oleh khas daerah yang berkonsep sama dengan Surabaya Snowcakenya Zaskia Sungkar. Dan koq ya semua oleh-oleh khas daerah punya artis berbentuk cake? Kaya sama semua cuma beda topping + nama. Ups.

PhotoGrid_1495197163861
Temukan 5 perbedaannya LOL

Ya semoga saja masyarakat ga bosan. Karena sesuatu yang sama dan terjadi berulang-ulang itu jadi ga seasik saat pertama kali. Tsaaah. Jadi let’s see together, sampai kapan euforia ini akan bertahan.

Lalu saya bertanya pada Bapak Presiden dan Bapak Kapolri, LOL. Wah kehadiran bisnis oleh-oleh khas daerah punya artis mematikan oleh-oleh khas daerah tradisional dong?

Helllowww. Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Dan rezeki itu tidak akan tertukar.

“Perubahan itu pasti terjadi, kadang menyenangkan kadang tidak mudah untuk diterima. Barang siapa yang tidak bisa mengikuti arus dengan tetap memiliki identitas, dialah yang akan tergerus”.

Orang yang memilih untuk berbisnis itu emang harus terus berinovasi. Kalau stagnan, kalau gampang berpuas diri, yauda deh, kelar idup lo.

Emmm… coba deh oleh-oleh khas daerah tradisionalnya berinovasi, misal onde-onde -btw pada tau ga onde-onde itu oleh-oleh khas daerah tradisional mana?- bikin varian rasa coklat nutella, selai kacang skippy, green tea, strawberry atau apa kek. Trus ajak Raisa jadi brand ambassadornya, bikin poster dia lagi gigit onde-onde yang isinya meleleh, udah deh, dijamin meledak di pasaran. Ga percaya? Coba aja.

Sekian tulisan saya mengenai oleh-oleh khas daerah di kalangan artis. Tulisan ini hanya merupakan opini pribadi dan tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.

9 Comments

  1. mungkin itu jg bisa saja numpang tenar kak. di solo banyak warung makan yg isinya foto2 artis juga hehe

  2. yenni

    eh iya ya mbak, kok belum ada yang kepikiran memodifikasi onde-onde.

  3. Iya nih model makanannya itu-itu aja kalau kulihat. Lama-lama jadi bosan lihatnya. Tapi aku penasaran juga sih sama rasanya. Yang pernah nyicipin cuma studel malang. Trus kalau soal oleh-oleh aku kok lebih milih yang benae-benar khas kayaknya

  4. 1 pun blm ada yg aku coba mba :p .. Tp adekku yg tinggal di medan, bilang kalo yg punya irwansyah itu biasa aja rasanya.. G bikin nagih sampe mau beli berkali2 :p . Ntr kalo aku mudik ke medan, aku mau cobain ah 😀

  5. iya mba mau artis pd bikin kue apa kek yg masyarakat biasa jgn takut krn rezeki takkan tertukar lidah takkan dibohongi.
    sampe detik ini menjamur aku masi suka produk yg dlu blm prnh beli dan katanya antri ini yg bkin males xixxi

  6. Marketing sama promosinya keren yaa, modalnya pasti gede juga.. 🙂 Aku belum pernah nyoba cake2an artis itu mbaa, pingin sih nyoba kapan2.. Tapi kyaknya klo ke daerah lebih suka beli Oleh2 yg bener2 khasnya..

  7. Kalo mama aku (dari Surabaya) datang ke Bali pasti bawa oleh-oleh meski buat anaknya sendiri. Dulu sih swering brownies kukus Amanda. Lalu akhir-akhir ini ganti bawa lapis kukus Surabaha Pahlawan melulu. Yang cokelat kuning dengan topping keju. Pas aku request nih minta bawain snow cake Surabaya eh si mama nolak dengan keras! Katanya “emoh, antri lama. Rasanya lho ternyata nggak enak. Wes enakan kue kukus surabaya aja!” Hehehe. Itu pendapat beliau ya.

  8. Strateginya itu seruu..

  9. Rasanya juga enak 🙂

Leave a Reply