my life

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Senin pertama di bulan April, tanggal 4 April 2016 pukul 22.22 WIB mama mengetuk pintu kamarku dengan tergopoh-gopoh. Aku kaget, bangun dan membuka pintu, “kenapa ma?”.

Ternyata mamaku baru saja menerima telepon dari adekku mengabari kalau ayah kritis. Tanpa pikir panjang aku langsung telepon taxi, ganti baju trus packing kebutuhan anak : popok, termos, susu, botol dot, beberapa baju ganti. Begitu juga dengan suami dan mama bersiap. Saat taxi datang, kugendong anakku dan kami berempatpun bergegas masuk dalam taxi. Alhamdulillah sopir taxinya baik, mau mengantar kami dari Sidoarjo sampe ke Mojokerto, malam-malam hujan deras, petir dan angin lumayan kencang.

Dalam taxi air mataku terus menetes, pikiran kemana-mana. Loh koq mendadak? Ayah sakit apa? Knapa harus saat aku ga ada di Mojokerto? Knapa secepat ini? Aku belum sempat mebahagiakannya. Aku terlalu sibuk membencinya. Ya Allah…

Dan teleponku berdering, adik iparku mengabari kalau dokter di RS sudah menyatakan ayah meninggal dunia, kena serangan jantung koroner atau kalau orang dulu bilang angin duduk. Tambah saja air mata ku ga berhenti menetes.

Sampai di rumah terlihat tetangga sudah ramai dan jenazah ayah sudah dibaringkan di ruang tamu berselimutkan jarik. Tangisku tambah menjadi, aku ga kuat, sesak dada ini, lemas badan ini, sempat roboh sampai kemudian suami berbisik, “kamu harus kuat, jangan nangis kalo mau lihat ayah, pegang ayah, peluk ayah”

Aku bangkit, menghapus air mata dan istigfar. Kemudian aku menghampiri ayah, membuka jariknya dan memeluk serta mencium ayah. Itulah terakhir kalinya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. We indeed belong to Allah and we indeed toward him are returning. We love you so much, but Allah SWT loves you even more.

tumblr_inline_mugquu1u6m1r4vqpv

1 Comment

  1. […] Baca : Innalillahi wa inna ilaihi rojiun […]

Leave a Reply