my life, parenting

Daycare?! Yay or Nay

Akhirnya sampai pada titik dimana harus menitipkan anak pada seseorang yang bukan darah dagingnya.

Flashback sejenak. Setelah melahirkan, saya dan suami, kami yang kala itu masih belum punya rumah masih tinggal di sebuah kamar kos keluarga di Surabaya ukuran 4×6, memutuskan setelah masa cutiku habis maka anak kami diasuh oleh mamaku di Mojokerto. Itu sesuai juga dengan permintaan mamaku, jadi ga usah didebat ya kenapa orang tua masih disuruh momong cucu. Kami ketemu anak cuma pas weekend aja. Sebenernya saya bisa sih PP Mojokerto-Surabaya tiap hari, lalu gimana dengan suami saya?! Apa harus saya tinggalkan dia sendiri di Surabaya?! Kalau dia harus PP Mojokerto-Bangil… kasiaaan, jarak tempuh 1,5-2 jam dengan medan yang berat dalam artian jalanan sepi sering denger berita daerah situ banyak begalan sepeda motor, apalagi kan jam kerja suamiku pake shift, pagi siang malam. Jadilah seperti ini ceritanya, ketemu anak cuma pas weekend aja.

Tepat di usia anakku yang ke 20 bulan, alhamdulillah kami bisa menempati sebuah rumah yang layak di Sidoarjo. Rencana akan memboyong anak kami untuk tinggal bersama membuat mamaku sedih, tiap hari bengong, tekanan darah tinggi naik, sakit gigi dll. Intinya mamaku ga mau pisah sama anakku, ga tega juga kalau anakku harus diasuh orang lain. Plus adanya masalah rumah tangga yang membuat mamaku ga betah di rumahnya. Akhirnya dibuatlah sebuah keputusan besar, mamaku ikut denganku tinggal di Sidoarjo. Terus terang aku senang, karena selain anakku akan aman, aku juga bisa lebih berbakti sama mama karena kan tinggal serumah.

Tapi rupanya Allah punya rencana lain, 3 bulan setelah kami menempati rumah baru di Sidoarjo, ayahku meninggal dunia. Kami semua pulang ke Mojokerto sampe hari ke 7 dan setelah itu mama masih dalam masa iddah ga boleh keluar rumah, anakku jelas di Mojokerto, aku bahkan masih PP Mojokerto-Surabaya, suamiku pulang ke Sidoarjo, adikku yang tinggal di rumah yang sama kondisinya drop sakit-sakitan, suami adikku sibuknya ga karuan. Pelan-pelan aku menjelaskan bahwa bagaimanapun setelah 40 harinya alm. Ayah aku akan balik tinggal di Sidoarjo kumpul sama suami dan tentu saja anakku kubawa. Lalu mamaku berada di persimpangan jalan, ga mau pisah sama anakku tapi juga ga mau ikut ke Sidoarjo karena banyak pertimbangan salah satunya kondisi adikku. Oke aku harus tegas, anakku harus tinggal sama orang tuanya, dengan atau tanpa mama ikut ke Sidoarjo lagi. Titik. Bismillah semoga keputusanku mendapat ridho dariNya, aamiin.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya yaitu, dimanakah harus kupercayakan anakku saat aku kerja mulai pagi sampai sore hari? Kalo ART or babysitter jelas NO. Uda nyari orang yang dipercaya susah banget, di daerah rumahku situ masih sepi banget lagi, ga ada tetangga blas. Kan ga aman tuh ninggalin anak di rumah sama orang yang notabene bukan darah dagingnya. Lalu muncul ide anakku akan kudaftarkan ke daycare, bagaimana menurutmu?! YAY or NAY. Hfffh.

4 Comments

  1. Ya ampun mba, maaf saya kok tetiba sedih ya. Nyasar pas nyari options daycare eh kebaca pas mba jumpa anak pas wiken aja pasti dgn pertimbangan tertentu. Kyaknya saya yg kurang bersyukur kantor selemparan batu dari rumah, fleksibel dan siang bisa pulang. Eh ngelunjak pas mumet kepengen resign :”(

  2. Cucu saya kadang² di daycare kalo pas gak ada orang di rumah. Boleh insidental. Saya sendiri ga sanggup kalo sendirian ngasuh. Boyoknya ga kuat ngikutin wira-wiri…Hehe…

Leave a Reply