my life, random thoughts

Beli Baju Lebaran, Yes or No

Bulan Ramadhan sudah masuk hari ke-18, kalian sudah ngapain saja gaes? Puasanya masih belum ada yang bolong kan?! Tarawihnya gimana? Baca Qur’an nya sudah sampai juz berapa?

Teruuus… siapa yang sudah belanja baju lebaran, kue lebaran sama hamper buat kerabat angkat tangan hayo, saya-saya *angkat tangan.

Hampir tiap tahun muncul pro kontra belanja-belanja menjelang lebaran, khususnya belanja baju lebaran. Yang kontra bilang –> norak lebaran pakai baju baru, boros buang-buang duit mendingan ditabung, ekstrimnya : gagal dapat esensi Ramadhan dimana kita harus menahan diri eh malah konsumtif. Sedangkan yang pro bilang –> ah setahun sekali ini, mumpung ada rezeki lebih (THR), bijaknya bilang : salahkah jika ingin menghormati hari raya dengan tampil spesial tampil bersih di hari yang spesial hari yang fitri setelah 11 bulan menahan diri untuk tidak berbelanja.

Nah lho, kalian sendiri termasuk #Teammyes atau #Teamno?

Kalau mau berdebat bakalan panjang dan ga akan ketemu mana yang benar ataupun mana yang salah.

Karena apa? Prioritas tiap orang itu beda. Ga ada standar macam Sholat wajib itu 5 waktu, ga sholat berarti dosa.

Saya kasih perumpamaan ya. Dengan pendapatan yang sama :

Misal prioritas si A yang masih single itu makan masakan sendiri, bayar cicilan rumah, bayar listrik, beli pulsa hp, bayar cicilan motor dan menabung. Diluar 6 hal itu merupakan kebutuhan sekunder bagi si A, model shopping, traveling, nongkrong di cafe, koleksi perhiasan, dll. Dan si A bahagia dengan pilihannya.

Sedangkan si B yang juga masih single ga bahagia kalau harus seperti si A. Bagi si B prioritasnya itu makan di depot karena dia tidak bisa masak dan tidak punya waktu untuk masak, bayar cicilan rumah, bayar listrik, pulsa hp, langganan internet di rumah untuk mensupport pekerjaan, bayar cicilan mobil karena punya mobil lebih menguntungkan lebih mobile untuk pekerjaannya yang membutuhkan mobilitas tinggi, shopping untuk menunjang penampilan, traveling untuk alasan pekerjaan begitupun nongkrong di cafe, bayar asuransi untuk tindakan preventif mengingat pekerjaannya tidak menjanjikan dana pensiun dan tetap ada alokasi dana untuk menabung. Bagi si B kebutuhan sekunder itu koleksi perhiasan, dll.

Picture1

Mana yang paling benar, si A atau si B? Dua-duanya benar.

Wong mereka ngelakuinnya pakai uang mereka sendiri, toh baik A maupun B masih punya tabungan, hanya saja tabungan si B lebih besar dari tabungan si A. Kalau si A dipaksa harus hemat seperti si B pasti ga akan bahagia, begitupun sebaliknya. Karena ya itu tadi seperti saya bilang bahwa kebutuhan hidup tiap orang itu beda.

Lalu apakah si B lebih konsumtif dari si A? Iya.

Tapi sekali lagi si B tidak salah. Dia beli pakai uangnya sendiri. Dan menurut dia, apa yang dibeli itu penting, harus! meski bagi orang lain ga penting dan ga harus. Yang perlu digaris bawahi si B masih punya kesadaran finansial untuk membeli asuransi persiapan di hari tua dan bahkan masih punya tabungan.

Beda lagi sama C. Dengan pendapatan yang lebih sedikit ketimbang A dan B semua dia inginkan, ya makan enak, rumah mewah, kendaraan bagus, traveling kemana-mana, penampilan up to date, perhiasan kemeroncong, dompet tebel isi credit card, transaksi ini itu gesek credit card nya, utang dimana-mana gali lubang tutup lubang, boro-boro tabungan, hari itu gajian hari itu juga saldo O. Akhirnya cari-cari recehan lain sampe dibelain korupsi. Nah yang model begini nih yang konsumtif salah. Hajar bleh. Besar pasak daripada tiang. SALAH AKUT.

Jadi kesimpulannya.

Konsumtif itu tidak salah, karena tiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda, asal jangan sampai besar pasak daripada tiang.

Berarti beli baju baru untuk lebaran meskipun termasuk budaya konsumtif juga tidak salah, diniati yang baik-baik saja : menghormati hari yang fitri, berbagi rezeki untuk orang lain dalam hal ini penjual baju. Apalagi kalau beliin baju buat orang tua, mertua, saudara, keponakan, kan nyenengin orang tuh, insyaAllah malah pahala. Yang penting ga lupa zakat infaq sodaqoh dan menabung tentunya.

28121-meme-baju-lebaran
Mungkin yang #Teamno ga punya duit 😂

Saya saja punya kebiasaan kembaran baju lebaran sama mama dan adek. Bahkan sampai saya sudah menikah dan punya anak kebiasaan itu tetap berlanjut. Tapi tahun ini ga bisa kembaran bertiga lagi, hiks.

Baca : Adekku

Kalau kebiasaan kalian gimana gaes? Share di comment ya.

3 Comments

  1. meskipun dikasih budget khusus sama paksuamu, aku gak terlalu excited banget sama baju lebaran, karena kadang baju lebaran tahun kemarin masih bisa dipakai ๐Ÿ™‚

  2. Nggak ada tradisi baju kembaran di keluarga saya dan buat lebaran sih saya pake baju apa aja yang penting sopan, bersih, dan ngerasa nyaman. Daripada beli baju baru terus tiap lebaran, mendingan uangnya untuk sedekah, soalnya banyak orang lain yang untuk baju sehari-hari aja kurang mampu.. ๐Ÿ˜€

  3. […] Baca :ย Beli Baju Lebaran, Yes or No […]

Leave a Reply