liburan, my life, review

Backpackeran ke Pulau Merah Banyuwangi


Bener-bener ga nyangka Sabtu kemarin saya backpackeran ke Pulau Merah Banyuwangi. Ga ada rencana sebelumnya, ga nyiapin apa-apa juga karena trauma kalau terlalu matang persiapannya biasanya malah zonk alias batal pergi.

Baca : Who Hurt You? Your Own Expectation

Sabtu malam, saya, mas hubby, Nabila dan mami masih makan di Platter Sidoarjo. Nah di situ kami ngobrol dan mas hubby mendadak menawarkan “Besok ke Pulau Merah yuk”

Jelas saya kaget, koq mendadak banget. Belum nyiapin printilan, belum pesen hotel bla bla bla.

Eh mas hubby nantangin, “Mau ga? Kalau mau ga usah mikir kelamaan. Masalah gimana entar yang penting berangkat saja dulu”

OK deal kami berangkat dari Sidoarjo hari Sabtu jam 23.00 WIB. Bawa baju seambilnya. Yang penting BBM mobil full dan dompet plus hp ga ketinggalan.

Kami memilih lewat Jember ketimbang Situbondo, karena menurut google map jaraknya lebih dekat. Perjalanan Sidoarjo – Jember – Pulau Merah kami tempuh dalam waktu kurang lebih tujuh jam. Itupun ada berhentinya yaitu menjelang adzan subuh. Istirahat sekalian sholat di masjid Jember.

Oh ya, kalau ada yang belum tau, Pulau Merah itu terletak di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Pesanggaran. Rute menuju Pulau Merah tidak begitu sulit. Selain dari bantuan google map, penunjuk arah pun dipasang dengan jelas di sepanjang jalan Banyuwangi.

Sebenarnya sesampainya di Banyuwangi kami ingin transit di hotel New Surya yang terletak di Jl. Yos Sudarso No. 2, Jajag, Gambiran, searah dengan perjalanan menuju Pulau Merah. Ya sekedar untuk mandi dan leyeh-leyeh sebentar. Tapi ternyata kata receptionist hotelnya lagi full, hiks, ya sudah kami balik kanan lanjut Pulau Merah. Padahal kota kecil ya, tapi hotelnya bisa full juga. Berarti kalau mau menginap harus booking dulu.

Gara-gara ga bisa mandi saya jadi bete. Pengen marah sama mas hubby, abisnya ngajak travelling koq dadakan. Tapi marahnya saya tahan karena ada Nabila dan mami hehehe. Pantang berantem depan anak dan orang tua.

Di sekitaran Pulau Merah nya sih banyak penginapan-penginapan gitu, tapi kaya rumah penduduk trus dijadikan penginapan. Saya ga yakin tempatnya cocok makanya ga mau transit di situ.

Begitu sampai di Pulau Merah loketnya belum buka dong, ya iyalah masih jam enam pagi. Tapi tetep boleh masuk koq. Bayarnya nanti pas pulang, tiketnya murah cuma Rp 8000 per orang.

Dalam kondisi belum mandi, baju lecek semaleman duduk di mobil dan muka polosan tanpa sunblock kami pede saja beli sarapan di warung deket pantai, main air di pantai dan foto-foto hahaha.

berasa private beach

 

payung-payung yang bisa disewa seharga Rp 20000 per jam

 

Nabila anak pantai

 

foto sepuasnya sama huruf suka-suka pilih sendiri cuma Rp 3000 per orang

Gimana gaes, pantainya bagus banget kan? Rasa cape seketika hilang. Rasa bete dan pengen marah juga hilang. Yang ada hanya syukur. Begitu indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Air yang jernih, pasir yang putih dan bersih tidak ada sampah, suara ombak, hangatnya sinar matahari, ah i looooove. Mana pantainya ga terlalu ramai lagi, berasa kaya private beach. Hanya saja karena ombak yang begitu besar pengunjung dilarang berenang terlalu ke tengah. Namun demikian tampak di kejauhan beberapa bule sedang surfing, katanya memang Pulau Merah ini surganya pecinta surfing, mulai dari pemula, amatir sampai profesional. Dan kata-katanya sih ombak di  Pulau Merah ini lebih serius dibandingkan Kuta.

Bukan hanya saya, mas hubby – Nabila – dan mami pun sangat menikmati keindahan Pulau Merah. Kebahagiaan seperti inilah yang ga bisa dibeli dengan apapun. Travelling emang recharge energi banget ya. Buat yang ngajak family kaya saya juga bisa sebagai sarana ngelatih teamwork, contohnya ketika mas hubby nyetir saya sebagai navigator sedangkan mami main sama Nabila, ketika di pantai pun demikian, bagi tugas siapa yang pegangin Nabila siapa yang fotoin dll.

Karena ini pertama kalinya Nabila ke pantai, otomatis nambah pengetahuan juga buat dia. Apa itu laut, kenapa ga boleh renang di laut ga seperti ketika boleh renang di kolam, kenapa air laut rasanya asin, dan masih banyak yang lainnya sampai itu siapa koq rambutnya putih (nunjuk ke bule) wkwkwk.

Puas main di pantai, kami pulang menuju Sidoarjo. Kali ini kami memilih lewat jalur Situbondo. Ya, lebih jauh memang, tapi kami ingin berhenti di SPBU Utama Raya sebelum Paiton, tepatnya di Jl. Raya Banyuglugur KM 2, Banyuglugur, Situbondo. Karena di situ kamar mandinya VIP ada air hangatnya hehehe, kami mau mandi di situ saja murah cuma Rp 7000 per orang. Di situ juga ada cafe dan restorannya, jadi sekalian makan. Mushollanya pun bersih, sangat-sangat representatif. Transit di situ lebih hemat kan daripada di hotel wkwkwk.

abis mandi di SPBU Utama Raya

Sampai rumah Sidoarjo dengan selamat hari Minggu jam 21.00 WIB. Cape? Jelas! Apalagi mas hubby, dia nyetir non stop tanpa digantiin. Tapi kebahagiaan kami mampu mengalahkan rasa cape. Jadi, ada yang mau backpakeran ke Pulau Merah seperti kami?

10 Comments

  1. Anakku jugs suka banget main2 pasir di pantai merah. Kita baru PD mendekat ke pantai mendekati matahari terbenam, sebelumnya berteduh dulu di payung2 itu. Pas disana musim buah naga ngga mbak ? Murah meriah lo. .

    1. Emang ombaknya gede banget, tapi keren. Iya buah naga murah cuma Rp 5000 per kilo

  2. Hastira

    birunya laut itu bikin suka

  3. Wah, keren pulau Merah!
    Kalau aku jarang pergi dadakan gitu, Mbak..itulah beresiko, nggak dapat penginapan, dll..Tapi asyik juga kayaknya ya , jadi tanpa rencana langsung pergi aja. Daripada rencana” tapi nggak jalan juga hahaha

    1. Ini juga saya baru pertama dadakan mbak. Kalo sekali-sekali gpp lah. Tapi jangan sering-sering, protol badannya tar. Wkwkwk.

  4. Dwi

    Jadi yang di pantai itu belum mandi ya mba, hehe… Tapi trims infonya semoga ada rezeki ke sana.

    1. Hahaha thats true. Ga keliatan kan.

  5. Iya, lamaan di jalan ketimbang di pantainya. Tapi puas soalnya pantainya bagus.

  6. Banyak orang di belakang layar ya… harus pinter pinter cari spot terbaik dan kosong ya mba.. btw murah yaaa kesana.. pengennn deh main kesana

    1. Sebenernya ga terlalu rame mbak dibanding pantai-pantai di bali, jogja, lombok ataupun malang selatan.

Leave a Reply