my life

Adekku

img_20161022_063541

Tahun ini tahun terberat bagi saya dan keluarga. Dua orang yang sangat kami sayang diambil olehNya. Setelah ayah pada April yang lalu, sekarang adek saya.

Selasa malam, 18 Oktober 2016 saya di whatsapp mama bilang kalau Sherly, adek saya masuk ICU di RSUD Mojokerto. Saat itu saya sedang berada di bus sepulang dari Kab. Sampang. Saya memang memutuskan untuk pulang duluan dan pisah dengan tim karena ada firasat ga enak menginap di luar kota. Kemudian saya telpon mama katanya Sherly baik-baik saja hanya sesak nafas dan butuh oksigen, saya pun disuruh mama besok sore saja sepulang kerja baru ke RS. Untungnya saya ga nurutin mama.

Rabu pagi, 19 Oktober 2016 saya dan suami berangkat ke Mojokerto. Hari itu saya memang berniat tidak masuk kerja sedangkan suami masuk shift sore jam 16.00 WIB. Sebelum berangkat, Nabila terlebih dahulu kami antar ke daycare tanpa kami bawakan baju ganti dan hanya membawa beberapa diapers karena kami pikir ke Mojokerto sebentar aja, sebelum Dhuhur sudah mau balik ke Sidoarjo terus jemput Nabila.

Ternyata Allah punya ketentuan lain. Sesampai di RS kami langsung disambut pemandangan mama dan adek ipar sedang berkonsultasi dengan dokter di ruang ICU, mama menangis ga henti-henti. Dari luar pintu ICU kami hanya bisa harap-harap cemas. Kata dokter, jantung Sherly mengalami pembengkakan, ada cairan sebanyak 500cc yang membuat jantungnya bengkak sampai menutupi paru-paru sehingga membuat sesak nafas. Jalan ssatu-satunya cairan itu harus dikeluarkan. Operasi dengan tingkat keberhasilan 70 – 80% pun dilakukan.

Saya, suami saya, mama dan adek ipar menunggu di depan ruang operasi. Menangis, gelisah, mondar-mandir, berdoa, istighfar sampai akhirnya dokter keluar dan memanggil adek ipar agar masuk ke ruang operasi. Alhamdulillah operasi berhasil, cairan berhasil dikeluarkan dari jantung dan kondisi Sherly normal semua baik itu detak jantung maupun tekanan darah.

Sherly dibawa dengan kasur dorong dari ruang operasi menuju ke ruang ICU lagi. Saya sempat melihat dan memegang tangannya. Wajahnya cantik bersih, matanya melek dan mengeluarkan air mata tapi dia tidak bisa berkata apa-apa karena terpasang selang oksigen di hidungya. Hanya saja tangannya dingiiiiin sekali. Saya menangis sambil berkata, “sehat ya dek, sembuh ya”

Sesampai di ruang ICU hanya adek ipar yang boleh masuk. Saya, suami saya dan mama menunggu di depan pintu. Sebentar kemudian adek ipar keluar menyuruh kami bertiga berdoa dan dia masuk lagi. Mama saya sholat Dhuhur di depan pintu ruang ICU. Lalu adek ipar keluar lagi dan mengabari kalau Sherly sudah ga ada. Innalillahi wainnailaihiroji’un.

Kemudian semua menjadi gelap.
Hitam.
Kelam.